Akhirnya, saya mendapat pencerahan juga tentang CPSIA (Consumer Product Safety Improve Act). Saya udah uring-uringan aja ama issue ini. Secara, udah sekitar ampir 2 mingguan coba search di Internet tentang hal ini dan masih ga bisa nyimpulin apa sih intinya.
Ga banget deh kalo ada yang nanya tentang CPSIA ini dan saya ga bisa jawab. Selama masih ada Om Google, pasti ada jawabannya.
Dan akhirnya saya baru bilang, “O begitu toh maksudnya….”
Jadi kira-kira begini summarynya. *buka folder hasil browsing-an CPSIA dulu*
Sebelum Presiden George W. Bush turun tahta, beliau mengesahkan CPSIA 2008 menjadi hukum. CPSIA itu semacam policy untuk semua barang yang masuk ke USA, terutama barang untuk anak-anak yang berumur 12 tahun kebawah (Children’s Product Safety) tapi ga terbatas untuk anak-anak aja, Adult product juga termasuk.
CPSIA semacam kebijakan pemerintah untuk perlindungan konsumen Amerika gitu deh.
Two thumbs up untuk concern ini. Sembari mikir, kapan ya Indonesia punya concern yang tinggi untuk perlindungan konsumen Indonesia? Tahu berformalin, Nugget daging tiren, telor palsu, susu melamin, dan sejuta hal lainnya yang luput-luput ajah dan merugikan khalayak ramai.
Okay, balik lagi ke CPSIA.
Dahsyat… secara ada issue yang deadlinenya December 2008 (this month!!!) dan bikin semua supplier barang yang ekspor ke USA dan juga saya, misruh-misruh tentang hal ini.
Nah kalo yang ini, menurut saya ga banget deh. Ya dipikir aja, seharusnya pan ada masa sosialisasi dong dari hukum yang baru ditetapkan, trus masa percobaan. Masa ditetapkan bulan Agustus, trus deadlinenya bulan Desember ? Yang bener ajah. Banyak pihak yang pada shock.
Nah untuk barang yang akan di ekspor ke USA yang dibuat pada atau setelah tanggal 12 November 2008, kudu punya sertifikat khusus GCC (General Certification of Conformity) atau COC (Certificate of Compliance) untuk semua shipmentnya. Kalau ga ada GCC atau COC, ya barangnya ga bisa masuk USA.
Fyi aja, untuk bisa nerbitin GCC or COC ini, biayanya ga sedikit loh.
Ya rada mengenaskan juga untuk beberapa pihak yang menjual produk ke USA untuk segment ekonomi menengah ke bawah, karena kadang harga jual barang mereka (sebelum sale akhir tahun) ga nutup untuk biaya ngeluarin GCC or COC. Jadi ya kedepannya akan berdampak ke harga jual barang-barang yang kena Policy ini.
Tapi kita bisa bilang apa ? Kalo mau masuk USA, ya mau ga mau kudu ikutin prosedur negara tersebut kan ?
Trus hal-hal yang menjadi inti dari CPSIA 2008 ini antara lain adalah masalah kadar Timbal (Lead, Pb), senyawaan Phthalate dan Telusur label. Jadi kadar konsentrasi senyawa Timbal & senyawa Phthalate dikurangi secara bertahap dengan periode waktu tertentu. Sedangkan untuk telusur label, maksudnya lebih diperketat lagi agar barang yang masuk ke USA bisa ditracking dari mana asal barangnya, tanggal pembuatan, dan hal-hal detail lainnya.
Btw, saya lagi iseng-iseng mikir. Kalo supplier barang untuk produk anak ke USA mungkin bakalan ngurangin pasokannya ke USA karena tingginya biaya untuk mendapatkan GCC atau COC, terus bakalan ada kekosongan produk apakah berarti anak-anak USA bakalan ga pake pakaian [naked? Masuk angin dong, ga lucu kan kalo mereka jadi import minyak telon or minyak kayu putih?], ga punya mainan [ga lucu juga kan kalo mereka import congklak atau unduh permainan-permainan anak Indonesia tanpa alat di internet?] dan ga bisa punya barang seperti baby walker & baby cart (dorongan bayi ntu loh, tapi saya ga tau apa namanya).
*lagi mikir apa yang dipake anak Indonesia kalo ga punya baby walker*
Mungkin ga sih ?
Atau ini salah satu kebijakan George W. Bush untuk meningkatkan lapangan pekerjaan di USA untuk produk barang-barang tersebut di dalam negeri?
Pastinya, mau ga mau kan produk-produk tersebut udah menjadi kebutuhan. Kecuali kalo USA melarang semua warganya punya anak lagi. Ga mungkin kan?
Secara kan negara tersebut lagi kena krisis ekonomi yang dampaknya global banget. Kan kalo ada kegiatan perekonomian dalam negerinya bisa nambah-nambah pendapatan pajak negara untuk cover program bail-out kemaren itu.
Lama-lama saya suka mikir kemana-mana tentang banyak hal, walau kadang relasinya kadang suka ngaco, mohon maaf karena emang background saya emang bukan sosial, ekonomi dan hubungan internasional.
Tapi lama-lama saya tertarik untuk cari tahu tentang hal ini, secara jaman sekarang, informasi apa sih yang ga bisa di search di Internet ? It’s our choice to be smart, isn’t it ?
Sembari saya memahami CPSIA ini, balik lagi ke Indonesia. Kenapa sih Indonesia ga bisa seketat itu ? Tapi setelah saya pikir-pikir lagi di sepanjang perjalanan saya pulang ke rumah, jum’at malem kemaren dan liat kanan-kiri. Kayanya emang belom mungkin.
Kalo seandainya Indonesia punya standard ketat untuk semua barang import yang masuk, otomatis hal itu juga berlaku untuk barang yang beredar di dalam negri. A big no, for nowadays.
Liat aja keadaan sekitar kita, orang susah payah berjuang demi sesuap nasi dengan jualan apa aja yang entah gimana cara pembuatannya.
Kalo ada standarisasi, otomatis ada pihak ketiga yang bertugas menegaskan kalo barang itu layak dan sesuai dengan standar. Dan sekali lagi, untuk hal itu, biaya yang dikeluarkan bukan jumlah yang sedikit dan otomatis akan berdampak ke nilai jual ke barang tersebut. Sehingga, ga akan lagi ada barang murah di pasaran.
Hm.. too complicated kan? Buah simalakama juga ya.
Yayaya.. saya baru inget kalo Indonesia Cuma negara berkembang, sedangkan USA adalah negara maju.
Ya udahlah, do the best what we can do for Indonesia for better future.
Disclaimer :
Tulisan ini saya tulis berdasarkan pengetahuan saya dan dari berbagai sumber. Kalau ada kesalahan or ada yang lebih tau tentang hal ini, ditunggu komentarnya.
PS. Special thanks to
Anang yang rela online sebentar padahal udah siap-siap mau istirahat mempersiapkan sholat id dan kasi advice tentang postingan ini dan disclaimer. Juga untuk
Pucca yang menanyakan postingan CPSIA kemaren.