hasil dari cuti panjang yang 'ga jelas' kemaren adalah...
i recommend book tittled : "marriagable, gue mo nikah asal..." by riri s.
is a must-read book!!!
it's so smart, so funny and so romantic...
that's the best novel i ever have...!!!
Wednesday, November 8, 2006
Monday, November 6, 2006
shock therapy
Never thought before that lunch invitation became a Great Shock therapy for me.
Speechless when my aunty told all the reality. She tried to open my mind to face this condition i've never imagined.
Accepting a new member on mine. Trying to find the remain positive thinking on my untold & unspoken anger. I'm not ready yet encountered this situation.
Walked to bath room and taken a bunch of water in this ambiguinity (?!)
what should i do?!
Praying to Allah, asked was it real?!
if i was not agree, it same as ignoring his happines.
but, i'm not agreed yet, till this second... i still wondering why i must happen to me?! i'm not asked to be born. tough, thought if i'm not deserved to face all things that weren't mistake i'd made. but, it's happened and that such silly thought won't solve anything...
my life turns just like tv series, broken-home child that having a new step member in the family.
i almost lost my mind that time. Tried to contact him on his vacation, but like usual, that sunday was imposibble arranged to meet with him although i've put URGENT on my sms. it didn't work! nor working days & holidays, he always busy and it's not busy about me.
and the last, i called her, one of my best friends and right away went to her home.
like usual, she's a good listener and give so a bunch of advice and point of view.
she knows me well.
thanks
without you, i'm lost
Speechless when my aunty told all the reality. She tried to open my mind to face this condition i've never imagined.
Accepting a new member on mine. Trying to find the remain positive thinking on my untold & unspoken anger. I'm not ready yet encountered this situation.
Walked to bath room and taken a bunch of water in this ambiguinity (?!)
what should i do?!
Praying to Allah, asked was it real?!
if i was not agree, it same as ignoring his happines.
but, i'm not agreed yet, till this second... i still wondering why i must happen to me?! i'm not asked to be born. tough, thought if i'm not deserved to face all things that weren't mistake i'd made. but, it's happened and that such silly thought won't solve anything...
my life turns just like tv series, broken-home child that having a new step member in the family.
i almost lost my mind that time. Tried to contact him on his vacation, but like usual, that sunday was imposibble arranged to meet with him although i've put URGENT on my sms. it didn't work! nor working days & holidays, he always busy and it's not busy about me.
and the last, i called her, one of my best friends and right away went to her home.
like usual, she's a good listener and give so a bunch of advice and point of view.
she knows me well.
thanks
without you, i'm lost
Wednesday, November 1, 2006
tentang motivasi
Sempat teringat sebuah pembicaraan saya dengan seorang teman dekat. Tentang pekerjaan dan masa depan. Dia terkejut dengan kenaikan tahunan saya yang menurutnya sangat tidak menjanjikan. Saya hanya diam. Saya tidak pernah berpikir bahwa dengan sejumlah itu saya merasa kekurangan. toh dengan jumlah segitu pun saya masih bisa menabung (bila dibandingkan dengannya yang jumlahnya 2x lipat lebih besar yang juga jumlah pengeluarannya juga lebih besar dibanding saya). Selama ini saya berpikir, Dia tahu yang terbaik untuk saya. Dan berbaik sangka, mungkin belum waktunya dia akan menambah nominal itu dengan sejumlah alasan yang masuk akal.
Saya menikmati pekerjaan saya dan menyukai semua orang yang terlibat dekat dengan saya.
Di lingkungan kerja sekarang, saya belajar untuk bisa lebih sabar, lebih santai, intinya berusaha lebih baik secara internal (antar sesama rekan kerja) , external (dengan klien) maupun untuk self improvement saya sendiri dari segi emosi.
Saya menyukai kerutinan yang saya alami setiap harinya, dan selalu bersemangat untuk melewati hari berikutnya bersama semua rekan2 kerja saya. Diantara mereka saya merasa lebih hidup dan lebih menjadi diri sendiri.
Saat ini, saya belum kehabisan gairah untuk hal ini.
tapi, kembali ke topik tadi, yaitu materi...
motivasi saya bekerja bukan semata-mata untuk materi (walaupun kita semua tahu, saya membutuhkan itu). Dalam kata lain, demi uang adalah yang ke nomor sekian (walau saya juga ga yakin demi 'yang no.satu' apa saya bekerja).
ketika teman saya itu mencoba 'membuka pikiran' saya dengan mengandaikan apabila kebutuhan saya 'terpaksa' meningkat drastis karena satu dan lain hal , saya menjawab sambil tertawa, "mungkin suami saya yang akan memenuhinya, dan tetap bukan saya...!"
jawaban singkat terlontar dari mulut saya sambil tertawa.
dia menyerah. kita berbeda orientasi penggunaan materi untuk prioritas kebutuhan yang berbeda pula. saya tahu dia pasti mengira saat itu saya sombong atau semacamnya dan masih mengganggap akan ada sandaran.
tapi saya optimis, apa yang saya dapat kali ini adalah hal yang terbaik, dan bila seandainya sesuatu terjadi, pasti saya dan Dia (tentunya) tahu apa yang harus dilakukan.
toh, saya pun selalu memperhitungkan sekian persen (dari gaji saya, bukan gaji dia) untuk hal tak terduga di kemudian hari, walau saya tahu tak sebanyak yang disisihkannya...
tak seharipun saya berhenti berusaha.
obrolan kami kemudian beralih ke topik lain dan saya pun melupakannya, namun cukup membuat gairah saya menurun terhadap pekerjaan saya.
hari-hari saya menjadi lebih terbebani oleh hal ini, saya merasa TERGANGGU.
saya akan tetap berusaha, meski teman saya tadi tidak perlu tahu sebesar apa usaha saya.
Saya menikmati pekerjaan saya dan menyukai semua orang yang terlibat dekat dengan saya.
Di lingkungan kerja sekarang, saya belajar untuk bisa lebih sabar, lebih santai, intinya berusaha lebih baik secara internal (antar sesama rekan kerja) , external (dengan klien) maupun untuk self improvement saya sendiri dari segi emosi.
Saya menyukai kerutinan yang saya alami setiap harinya, dan selalu bersemangat untuk melewati hari berikutnya bersama semua rekan2 kerja saya. Diantara mereka saya merasa lebih hidup dan lebih menjadi diri sendiri.
Saat ini, saya belum kehabisan gairah untuk hal ini.
tapi, kembali ke topik tadi, yaitu materi...
motivasi saya bekerja bukan semata-mata untuk materi (walaupun kita semua tahu, saya membutuhkan itu). Dalam kata lain, demi uang adalah yang ke nomor sekian (walau saya juga ga yakin demi 'yang no.satu' apa saya bekerja).
ketika teman saya itu mencoba 'membuka pikiran' saya dengan mengandaikan apabila kebutuhan saya 'terpaksa' meningkat drastis karena satu dan lain hal , saya menjawab sambil tertawa, "mungkin suami saya yang akan memenuhinya, dan tetap bukan saya...!"
jawaban singkat terlontar dari mulut saya sambil tertawa.
dia menyerah. kita berbeda orientasi penggunaan materi untuk prioritas kebutuhan yang berbeda pula. saya tahu dia pasti mengira saat itu saya sombong atau semacamnya dan masih mengganggap akan ada sandaran.
tapi saya optimis, apa yang saya dapat kali ini adalah hal yang terbaik, dan bila seandainya sesuatu terjadi, pasti saya dan Dia (tentunya) tahu apa yang harus dilakukan.
toh, saya pun selalu memperhitungkan sekian persen (dari gaji saya, bukan gaji dia) untuk hal tak terduga di kemudian hari, walau saya tahu tak sebanyak yang disisihkannya...
tak seharipun saya berhenti berusaha.
obrolan kami kemudian beralih ke topik lain dan saya pun melupakannya, namun cukup membuat gairah saya menurun terhadap pekerjaan saya.
hari-hari saya menjadi lebih terbebani oleh hal ini, saya merasa TERGANGGU.
saya akan tetap berusaha, meski teman saya tadi tidak perlu tahu sebesar apa usaha saya.
Subscribe to:
Posts (Atom)